mie ayam2.JPG

Menu Interactive

BLOG

Jadwal Kursus

Jadwal Kursus November 2014 UKMKU
  1. Kursus Usaha Bakery 2 (29/11)
  2. Kursus Usaha Dimsum 2 (30/11)

Jadwal Kursus Desember 2014 UKMKU

  1. Kursus Usaha Roti Rakyat (06/12)
  2. Pelatihan Pengembangan & Manajement Usaha Kuliner (07/12) 
  3. Kursus Usaha Roti Bakery 1 (13/12) 
  4. Kursus Usaha Siomay & Batagor (14/12)
  5. Kursus Usaha Kue Kering Ekonomis (20/12)
  6. Kursus Usaha Mie Ayam Gerobakan (21/12)

Info & Pendaftaran Kursus

Hub : 021-70038143
sms : 0856-719-4353
Pin BB : 28C63BC8

 

KOMENTAR

Image

Ibu Rima :

Enak semua tambah soto betawi mantap....

Image

Ibu Tutik :

Soto mie mantap! Soto betawi assoy!

Image

Ibu Wiwiek :

Sangat menyenangkan pengajarnya enak dan mudah dimengerti dan hasilnya bener-bener top banget...

Image

Bpk Dearama: Soto Mie

Image

Bpk. Verta: Soto Mie mantap.

Read more...
 

Shout It!

Name:

Message:







Home arrow Cerita Inspiratif arrow ROTI GORENG SEMPAT MELAJU KENCANG
ROTI GORENG SEMPAT MELAJU KENCANG PDF Print E-mail
Written by tomyachmad   
Thursday, 27 January 2011
Image

Meski tak berusia panjang, usaha roti gorengnya sempat sangat laris. Pengalaman usahanya menarik disimak. Apalagi di usia yang sudah tak muda, ia tak berhenti beraktivitas. Kegigihan yang tak kunjung padam.

    TINGGAL di rumah yang kecil tapi apik di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, begitu membahagiakan Hartati Kristiani (61). Ibu dua anak ini tinggal bersama si bungsu, Damar (21), mahasiswa jurusan Komputer sebuah perguruan tingga swasta di Karawaci. Anak sulungnya, Boma (33) sudah mandiri dan tinggal bersama istrinya di Kampung Utan. Boma yang alumni Universitas Trisakti, Jakarta, jurusan Mesin, bekerja di perusahaan minyak.
    Hartati yang suaminya, Soekismo, sudah meninggal tahun 2003 ini tak lagi ngoyo bekerja. Meski masih menerima pesanan snack dan nasi boks, ia tak mau terlalu letih. “Anak saya melarang kerja terlalu keras. Saya, kan, punya penyakit darah tinggi. Saya masih menerima pesanan, sekadar mengisi waktu dan untuk hiburan,” kata pensiunan sebuah perusahaan minyak ini.
    Apalagi si bungsu sebentar lagi menyelesaikan studinya. Damar juga sudah memperoleh penghasilan dari hasil kerja freelance membuat program computer atau website. Hartati juga mengisi waktunya untuk pekerjaan sosial bersama jemaat gereja tempat ia beribadah.

Usaha Mengelola Kantin Sekolah
    Sebelumnya, Hartati berkecimpung di dunia usaha. Perjalanan usahanya beberapa tahun silam menarik disimak. Inilah kisah Hartati. Sekian tahun silam setelah pensiun, Hartati berdiskusi dengan suami yang pensiunan pegawai Pertamina, untuk mengisi waktu luang. “Rasanya enggak enak jadi pengangguran. Saya memilih usaha katering,” ujar wanita asal Yogyakarta yang senang masak ini.
    Ide membuka usaha mendapat sambutan hangat dari suaminya. Ketika b ulan puasa tiba, Hartati ikut pasar kaget di Bintaro, tempat tinggalnya saat itu. Ia spesialis menjual gudeg, lengkap dengan ayam gorieng dan sambal goreng. Selama sebulan penuh ia berjualan. Hasilnya memang bagus. Dagangannya selalu habis.
     Kesempatan itu dimanfaatkan Hartati untuk menjalin relasi. Ia sekaligus sanggup mempromosikan usahanya yang diberi nama Eco, bahasa Jawa yang berarti enak. Tahun-tahun berikutnya, ajang pasar kaget selalu diikuti Hartati. Ketika kegiatan musiman ini berlalu, Hartati menerima pesanan nasi kotak.  Bahkan, banyak pula yang berlangganan masakannya. Sang suami setia menemani Hartati mengantarkan nasi boks ke tempat pelanggan dengan mobil pribadinya.  Begitulah kegiatan Hartati.
    Nasib baik menaungi Hartati ketika kakaknya yang mengajar di Universitas Kristen Indonesia, memberi informasi bahwa kampusnya membuka peluang usaha untuk membuka kantin. Bersama kakaknya, Hartati membuka kantin dengan menu masakan Jawa. Bila kakaknya menyajikan menu rawon, Hartati menyajikan menu gudeg, pecel, ayam dan lengkap dengan lalapan.
    “Usaha saya laris banget. Tentu saya tak bisa jalan sendiri. Saya dibantu tiga karyawan. Ada yang tugas membantu masak dan mengantarkan masakan, ada yang tugas menjaga kantin. Jam buka sebenarnya mulai 06.30 sampai malam. Biasanya, sih, jam 16.00 saya sudah pulang karena masakan sudah habis. Usaha di sana bagus banget. Saya mendapatkan keuntungan lumayan,” jelas Hartati.
    Namun, hanya beberapa tahun usia usaha kantin. Sang kakak dilarang suaminya berjualan karena terlalu sibuk, sehingga tak bisa aktif kegiatan kerohanian. Hartati ikut-ikutan berhenti. Ia mentransfer ilmu masak pada tetangganya. Sejak itu sampai sekarang usaha kantin diteruskan tetangganya.

Buat Roti di Saat Dini Hari  
    Duka mendalam dirasakan Hartati ketika suaminya meninggal. Usaha katering juga terpaksa berhenti karena tak ada lagi yang mengantarkan nasi boks. Beberapa waktu kemudian, Hartati merasa rumahnya di Bintaro terlalu besar. Ia menjual rumah itu dan memilih pindah ke rumah yang lebih kecil di  Bumi Serpong pada November 2008.
    Tinggal di rumah baru dengan lingkungan baru membuat Hartati tak punya kegiatan. Ia berdoa agar Tuhan memberikan jalan. “Sekitar dua bulan menganggur, rasanya tidak enak sama sekali. Saat suntuk itulah saya baca  kursus UKMKU. Di sana ada kursus membuat roti goreng. Persisnya Januari 2009, saya ikut kursus.”
    Hartati mengaku lancar mengikuti kursus. Ia tak perlu praktik lagi di rumah. Sesampai di rumah, ia cerita pada Damar, “Dik, Mama sudah bisa membuat roti goreng. Damar sangat mendukung, malah ia bersedia menjual di kampusnya,” kenang Hartati.
     Dini hari jam 02.00, Hartati sudah bangun. Ia mengolah tepung jadi adonan. Ia mengisinya dengan meses dan sayuran campur daging, sesuai ilmu yang didapatnya di tempat kursus. Pagi jam 06.00 saat Damar berangkat ke kampus, roti goreng hangat sudaah siap.
    Hartati memulai usaha roti goreng dengan satu resep  bisa menjadi 24 roti goring. Usaha ini dianggapnya tepat karena ia tak terlalu banyak mengeluarkan modal. Modal awal tak lebih dari Rp 100 ribu. Alat yang digunakan pun hanya penggorengan. “Satu roti goreng harganya Rp 1.500. Per buah bisa dapat untung Rp 500. Lumayan, kan. Saya sangat bersemangat ketika Damar pertama kali jualan, roti langsung habis.”
    Dengan penuh rasa suka, kala itu Hartati menerima telepon dari Damar. “Ma, rotinya sudah habis. Malah banyak teman yang pesan,” kata Damar saat itu. Hartati menggambarkan dagangannya laris banget. Mahasiswa suka karena roti buatan Hartati enak. Apalagi disantap selagi hangat. “Mungkin juga mahasiswa suka karena yang bikin roti orangtua mahasiswa.”
    Hartati tambah semangat ketika Damar menyampaikan pesan dari teman-temannya agar ibunda membuat berbagai macam rasa. Hartati pun menambah dengan isi sosis dan selai kacang. Ia langsung membuat tiga resep. Tangannya sampai pegal. Meski begitu, ia senang melakoni usahanya. Keringat yang meleleh di saat tetangganya masih tidur lelap, tak dihiraukan. Ia bahagia usahanya melaju kencang.
    Senyum tersungging di bibirnya kala semua roti goreng sudah matang. Ia  memasukkannya dalam plastik. Untuk membedakan masing-masing rasa, ia tinggal membuat tulisan tangan di masing-masing wadah. Kotak C berarti roti isi cokelat, S untuk isi sosis dan seterusnya.

Jatuh Sakit, Usaha Ikut Sakit
    Hartati mengaku usahanya tak lepas dari berkah dari Allah. Tanpa perlu banyak promosi, usaha yang dipasarkan anaknya, laris manis. Apalagi organisasi kampus anaknya juga tiap hari pesan untuk dijual lagi. Keuntungannya untuk menggalang dana kegiatan mahasiswa. “Sebenarnya Damar termasuk pendiam. Hanya saja tubuhnya gemuk seperti saya. Jadi, penampilannya meyakinkan. Mungkin temannya mengira Damar doyan makan karena masakan ibunya enak,” kata Hartati bercanda.
    Usaha roti gorengnya kian maju. Untuk memenuhi permintaan pasar, Hartati sampai membuat enam resep, bahkan di puncak larisnya Hartati sanggup memproduksi enam resep. Agar tak terlalu letih, Hartati sudah menggunakan mixer untuk membuat adonan. “Tiap hari saya belanja bahan gede-gedean. Untuk belanja dan mengantarkan dagangan, saya dibantu sopir.”
    Untuk memenuhi pesanan, Hartati tak sanggup mengerjakan sendiri. Ia dibantu dua orang karyawan. Apalagi, teman Damar juga banyak yang pesan nasi kotak. Tiap hari, setidaknya Hartati membuat 10 nasi kotak.
     Hartati yang rapi membuat pembukuan, menggambarkan keuntungannya sangat besar. Sehari, ratan-rata  keuntungan bisa mencapai Rp 200 ribu – Rp 300 ribu. Bahkan, pernah pula sehari dapat untung Rp 500 ribu. “Pokoknya lumayan banget. Ini rezekinya Damar,” kata Hartati yang saat itu membuat tiga rasa tiap hari. Menunya selalu berganti tiap hari agar mahasiswa tak bosan. “Hanya isi daging yang selalu ada.”
    Untuk variasi usahanya, Hartati tak berhenti mencoba. Suatu kali ia membuat roti goreng isi ikan yang disebut panada. Hanya saja, panada kurang disukai kalangan mahasiswa. “Sebenarnya mahasiswa enggak terlalu suka. Damar enggak kehilangan akal. Dia, kan, tak mau membawa pulang dagangan. Makanya ia banting harga. Harganya diturunkan seribuan rupiah. Makanya bisa habis.”
    Karena eksperimennya tak mendapat respons bagus, hari berikutnya Hartati tak lagi memproduksi. “Saya harus membuat produk yang disukai pembeli. Saya memilih membuat roti goreng sesuai permintaan pasar. Selama ini, sih, Damar tak pernah membawa sisa dagangan. Selalu habis,” kata Hartati seraya menunjukkan buku pembukuan.
    Hampir setahun Hartati mengalami masa panen. Sayang, kondisi kesehatannya tak memungkinkan Hartati bekerja terlalu keras. Ia sakit darah tinggi. Setelah sembuh, anak sulungnya melarangnya tiap hari membuat roti goreng. “Mama tidak boleh kecapekan lagi, agar tidak sakit,” kata Boma kala itu. “Wah, saya dimarahi anak-anak. Ya sudah, saya berhenti jualan roti goreng.”
    Kepada teman-temannya Damar mengumumkan, “Mama tak lagi membuat roti.” Usaha pun langsung stop. “Sebenarnya sayang sekali. Tapi, bagaimana lagi? Daripada sakit, lebih baik saya tidak terlalu berat bekerja.”
    Teman-teman Hartati menyayangkan perjalanan usaha roti goreng yang berumur pendek. Dari masukan teman-temannya, Hartati mengaku kelemahannya selama ini: ia tak mempersiapkan asisten yang dipercaya. Seandainya saja punya asisten, Hartati tak akan terlalu letih. Ia tak perlu langsung turun tangan. Ia tinggal mengawasi proses produksi.
    Meski begitu, Hartati tak menyesal. Ia mengungkapkan, semua ini sudah rencana Tuhan. Usahanya surut di kala tak lagi keluarganya butuh biaya. Hasil pensiunnya digabung pensiun dari suami, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Masih Terima Pesanan & Aktif Kegiatan Sosial
    Ketika sembuh dari sakit, Hartati tak mau hanya berdiam sendiri. Ia tetap ingin beraktivitas tapi dengan janji pada anak, tak boleh terlalu letih. Anaknya masih mengizinkan Hartati terima pesanan. Usaha yang tak tiap hari dilakukan ini, tak membuat tenaganya terkuras.
    Berkat relasi yang dibangunnya, ia rutin membuat snack untuk rumah retreat di Ciputat mulai Juli 2009 . Retreat dilakukan umat Kristiani sebagai bentuk pendekatan diri pada Tuhan. Hampir tiap minggu ada rom bongan yang datang ke rumah retreat. Rombongan bisa mencapai 50-120 orang. “Nah, saya yang menyediakan snack untuk mereka. Menunya sesuai pesanan. Antara lain martabak mini, sus, nagasari, arem-arem, wajik, dan tentu saja roti goreng.”
    Selain itu, saat ini seminggu sekali Hartati menerima pesanan 30 nasi bungkus untuk kebutuhan pegawai bangunan. “Ada teman yang sedang membangun rumah. Ia minta saya kirim nasi bungkus dengan harga per bungkus Rp 8.500. Saya memang hanya sanggup seminggu sekali.”
    Kegiatan Hartati lainnya, ia sejak tinggal di BSD, sudah membuka toko kecil di rumahnya. Ia menjual aneka kebutuhan seperti kopi, gula pasir, minyak goreng, terigu, bumbu masak, dan jajanan untuk anak-anak. Bukan sekadar keuntungan yang ingin diraih Hartati. Lebih jauh lagi, dengan punya usaha toko, ia bisa berkomunikasi dengan tetangganya. Jalinan relasi yang dibangun membuat tetangga tahu, Hartati jago memasak dan membuat aneka penganan. Sesekali ia menerima pesanan.
    Kini, selain terima pesanan, Hartati ikut kegiatan sosial. Misalnya saja bersama kawan-kawannya ia aktif menjadi donator untuk kebutuhan anak-anak kurang gizi.  Kegiatan ini sudah dilakukan sejak ia jadi produsen roti goreng. Kala itu sebagian keuntungan usahanya, disumbangkan untuk kebutuhan anak-anak miskin. “Anak-anak yang tinggal di pinggir rel kereta api, kondisinya memprihatinkan. Kami memiliki satu pos di Bintaro. Ada pegawai yang menyosialisasikan keberadaan pos kesehatan itu kepada warga yang membutuhkan. Seminggu sekali saya dan teman-teman ke pos kesehatan. Banyak warga yang datang. Kegiatan kami mulai dari acara timbang badan sampai memberikan susu dan makanan bergizi untuk anak-anak.”
 
dikutip dari buku "9 Laskar Pejuang Wanita Wirausaha" Pnulis Henry Ismono Penerbit PT. Elex Media Komputindo
Last Updated ( Thursday, 27 January 2011 )
 
< Prev   Next >


Best Seller
Cetakan Pertama Agustus 2007
Cetakan Kedua November 2007
Cetakan Ketiga Maret 2008
Photobucket Kena Aku Photobucket Cara Awal Buka Usaha Roti Kue Cover Depan Cara Jitu Siswa Juga Bisa Jadi Pengusaha 15 Hari Bisa Jadi Pengusaha

Subscribe to ukmku
Powered by finance.groups.yahoo.com